Pendeta GMIT di Rote Ndao dan Sabu Raijua Mendalami Hakekat UU Desa

By jerrybrand,

Sebagai tindak lanjut pelatihan UU Desa tahun 2018 bagi para pendeta GMIT, Yayasan TLM GMIT kembali menggelar Pelatihan UU Desa tahap dua bagi para Pendeta GMIT selama dua hari pada Kamis dan Jumat, 12 -13 Desember 2019 di Aula Hotel Ricky, Ba’a, kabupaten Rote Ndao.

Pembicara dalam kegiatan pelatihan ini adalah Yusuf Murtiono, Presidium FORMASI (Forum Masyarakat Sipil), Kebumen dan diikuti oleh 47 orang pendeta Rote Ndao, 11 kepala desa di Rote Ndao serta 6 orang pendeta Sabu Raijua dengan materi mengenai Hakekat dan Kedudukan UU Desa.

Para pendeta dan kepala desa diajak untuk mengindentifikasi potensi desa tempat pelayanan mereka yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi jemaat. Selain itu, para pendeta juga dihimbau untuk menyampaikan isu-isu terkait materi yang dipelajari melalui khotbah-khotbah kepada jemaat.

Tujuan Pelatihan UU Desa yang merupakan kolaborasi MS GMIT dan Yayasan TLM sebagaimana disampaikan Oleh Pdt. Emille Hauteas, staf UPP Kemitraan Sinode GMIT adalah karena dalam memberitakan kerajaan Allah untuk membawa damai sejahtra bagi masyarakat, gereja tidak bisa bekerja sendiri.
Emille juga menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat penting bagi para pendeta karena GMIT dikenal sebagai gereja desa yang mana mayoritas jemaatnya berada di desa.

“GMIT dikenal sebagai gereja desa karena mayoritas warga GMIT tinggal di desa, namun desa-desa tersebut miskin sehingga mereka harus keluar mencari nafkah dengan kemampun yang terbatas seperti menjadi TKI. Hal ini terjadi karena dana desa dari Presiden Jokowi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa tidak dimanfaatkan secara maksimal sehubungan dengan keterbatasan SDM. Tugas pendeta tidak terbatas pada kepentingan rohani, tetapi juga untuk memberikan kontribusi kepada pemerintah desa. Bukan berarti pendeta mengintervensi urusan pemerintah desa, namun menjalankan hak dan kewajibannya sebagai WNI yaitu turut menjaga proses pembangunan desa yang berkesinambungan.” jelas Pdt. Emille.

Dalam pelatihan ini, Yusuf Murtiono menekankan pada para pendeta bahwa pentingnya kehadiran pendeta dalam musyawarah desa karena isu sosial jemaat yang menjadi perhatian pendeta kurang lebih sama dengan isu masyarakat yang dikhawatirkan oleh pemerintah desa.
Tidak hanya pelatihan, para peserta juga diajak untuk mengunjungi objek wisata Mangrove di desa Maubesi yang merupakan salah satu desa binaan Yayasan TLM di mana para perangkat desa dan masyarakat Maubesi telah diberikan pelatihan mengenai penggunaan dana desa yang dan memutuskan untuk menggunakan dana tersebut untuk mengubah hutan mangrove menjadi objek wisata yang mendatangkan penghasilan tambahan bagi masyarakat Maubesi.

Dalam kunjungan ini, Kepala desa Maubesi, Firlot Pellokila menceritakan pengalamannya bekerja sama dengan Yayasan TLM yang telah membimbing Maubesi hingga mengalami perkembangan yang luar biasa.

“sejak menjadi kepala desa, saya mempunyai mimpi untuk menjadikan desa saya menjadi salah satu desa wisata seperti yang saya lihat di desa-desa di pulau Jawa. Saya senang saat YTLM mengajak saya bekerja sama untuk memberikan pelatihan UU desa dan pemanfaatan dana desa sehingga kami dapat menerapkan semua itu hingga saat ini bapak dan Ibu Pendeta sekalian bisa melihat hasilnya. Tidak hanya itu, YTLM juga membantu kami membuka kebun produktif sehingga Maubesi menjadi desa penghasil sayur-sayuran dan kami pun diberikan pelatihan industri rumah tangga sehingga ibu-ibu di desa kami dapat mendatangkan penghasilan bagi keluarga mereka” cerita Firlot Pellokila.

Para peserta dijamu dengan bakso yang dibuat oleh para ibu rumah tangga di Maubesi. Bakso tersebut merupakan salah satu hasil pelatihan industri rumah tangga dari Yayasan TLM yang kini telah menjadi suatu usaha masyarakat yang mendatangkan pendapatan bagi masyarakat Maubesi.

Pelatihan dan kunjungan tersebut diapresiasi oleh para pendeta dan kepala desa. Ketua klasis Lobalain, Pdt. Benyamin Zakarias menyatakan; “kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sebelumnya kami belum pernah mendapatkan transparasi informasi seperti ini. Kami berharap bahwa kegiatan seperti ini terus berlanjut. Kami juga mengharapkan kegiatan pengembangan lainnya dari YTLM bagi jemaat di Rote Ndao. Kami telah melihat impian kepala desa Maubesi yang sudah menjadi kenyataan dan itu merupakan bukti bahwa banyak potensi di desa dan juga jemaat yang belum dikembangkan karena kami tidak tahu caranya”. Kesan mengenai kegiatan pun disampaikan oleh Ketua Klasis Sabu Barat, Pdt Loni Radja Gah

“Kami para pendeta Sabu baru pertama mengikuti kegiatan seperti ini. Sebelumnya, kami sama sekali tidak tahu mengenai UU Desa dan Dana Desa. Padahal setelah tahu, kami sadar bahwa pengetahuan ini sangat bermanfaat bagi jemaat. Semoga ke depannya YTLM mau melaksanakan kegiatan ini di Sabu. Kami juga sangat senang mengunjungi tempat-tempat hasil kerja sama YTLM dan pemerintah desa.”

  Tags:
  Comments: None

36 PENDETA-GMIT DI TTS BELAJAR UNDANG-UNDANG DESA

By jerrybrand,

Yayasan TLM-GMIT kembali memfasilitasi kegiatan Seminar dan Lokakarya UU Desa di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Senin dan Selasa 09 – 10 Desember 2019, di Aula Hotel Dena -Soe.

Di konfirmasi tentang target peserta yang diundang yakni 50 orang pendeta dan 25 orang kepala desa, namun hingga akhir kegiatan, peserta yang hadir pada kegiatan semiloka tersebut berjumlah 42 orang, terdiri dari 36 orang pendeta perwakilan dari 11 klasis dan 7 orang kepala desa yang berasal dari 5 Kecamatan yang tersebar di wilayah kabupaten TTS.

Panitia pelaksana kegiatan seminar dan lokakarya Undang-undang Desa, Pdt, Emille R. Hauteas, S.Si ketika dikonfirmasi tentang kehadiran peserta, ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertepatan dengan sidang klasis Soe sehingga banyak peserta yang diundang namun tidak sempat hadir.

Kegiatan seminar dan lokakarya Undang-undang desa tersebut diawali dengan ibadah Bersama yang dipimpin oleh Pdt. Emille R. Hauteas, S.Si, kemudian dilanjutkan dengan sambutan yang disampaikan oleh ketua Sinode GMIT, Pdt Dr. Mery L.Y Kolimon sekaligus membuka kegiatatan semiloka tersebut.

Dalam sambutannya, pendeta Mery mengapresiasi kehadiran para pendeta sebagai tokoh masyarakat di desa yang walaupun dalam kesibukan siding klasis maupun kesibukan akhir tahun, masih menyempatkan diri ikut dalam kegiatan semiloka tersebut.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tindak lanjut dari salah satu amanah yang disepakati dalam sidang sinode belum lama ini.

“Salah satu amanah dalam sidang sinode baru-baru yang menjadi titipan untuk kita lanjutkan di pelayanan jemaat di desa yaitu gereja harus mencari jalan untuk meningkatkan partisipasinya dalam pembangunan masyarakat desa, khususnya dalam pemanfaatan dana desa yang besar itu sehingga tepat sasaran” Jelas Pendeta Mery.

Iapun berharap agar para Pendeta dan Kepala Desa dapat manfaatkan kesempatan ini untuk belajar sehingga sekembalinya ke tengah-tengah masyarakat dapat menjadi contoh bagi desa, terlibat dalam musyawarah untuk merencanakan pembangunan secara baik sehingga tidak terjadi pengimpangan dan menimbulkan masalah bagi masyarakat dan jemaat tetapi dapat mencapai tujuan Bersama yakni masyarakat TTS yang lebih maju.

Dalam seminar dan lokakarya ini, para Pendeta dan para Kepala Desa dibagi dalam beberapa kelompok, di beri kesempatan untuk berdiskusi, mengidentifikasi potensi & tantangan pengembangan ekonomi desa dimana mereka melayani, kemudian mempresentasikan kepada peserta dan pemateri.

Salah satu peserta yakni Pdt. Desy Kaesmetan, S.Th ketika memaparkan hasil diskusi kelompoknya menegaskan, gereja harus terlibat dalam pergumulan dan pelayanan didesa karena misi gereja adalah misi yang holistic sehingga dialog yang aktif perlu dilakukan antara gereja dan pemerintah yang ada.

“Kita di desa aitu bergumul dengan kemiskinan, stunting, pendidikan dan banyak hal lainnya di desa kita masing masing, jadi kita perlu bekerja dan berjuang Bersama-sama dalam pelayanan. Hasil seminar tahun lalu bersama Yayasan TLM, ada beberapa pendeta yang berhasil membangun hubungan dengan pemerintah desa tetapi ada juga yang tidak libatkan secara aktif bahkan tidak diundang dalam pertemuan desa. Jadi dengan adanya seminar kedua ini kita berharap dapat berjuang dan bekerja bersama – sama untuk kepentingan masyarakat” Jelas Pendeta Desy.

Lebih lanjut ia menyatakan, kewenangan desa saat ini sudah lebih luas namun keterlibatan tokoh masyarakat dalam perencanaan masih sangat kurang sehingga perlu diperhatikan dan ditingkatkan agar masyarakat dapat dilibatkan mulai dari proses perencanaan sampai pelaksanaan dan pelaporan maka tingkat pengimpangan bisa dicegah.

Atas kerja sama Sinode GMIT, Yayasan TLM dan Uniting World, dapat menghadirkan Haji Yusuf Murtiono, ketua presidium Forum Masyarakat Sipil (FORMASI) Kebumen sebagai narasumber dengan dua materi yaitu; hakekat dan kedudukan Undang-undang desa dan Undang-undang desa mewujudkan desa yang kuat, maju, mandiri dan demokratis.

  Tags:
  Comments: None