TINGKATKAN NILAI JUAL HASIL PANEN, PETANI DI KADUMBUL -SUMBA TIMUR OLAH LOMBOK DAN BAWANG JADI SAMBAL BAWANG SIAP SAJI

By jerrybrand,

Yayasan Tanaoba Lais Manekat (YTLM-GMIT), memberikan pelatihan dan pendampingan produksi sambal bawang bagi kelompok Industri Rumah Tangga (IRT) “Ndula Luri” di desa Kadumbul, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur-NTT pada pertengahan Bulan November 2020 belum lama ini.

Kelompok IRT “Ndula Luri” yang dalam Bahasa local Sumba Timur berarti ”Penunjang Hidup” tersebut beranggotakan delapan orang ibu rumah tangga dari tujuh KK.

Naomi Mauhongga, Ketua kelompok IRT “Ndula Luri”, kepada redaksi http://tlmfoundation.or.id menerangkan, sejak awal November 2020 lalu, ia bersama tujuh orang anggota lainnya bersepakat dengan fasilitator pertanian Yayasan TLM yang ada di desanya untuk mengolah hasil panen Lombok dan bawang menjadi produk rumahan yang benilai ekonomis.

“Kami di desa Kadumbul ini penghasil bawang, lombok dan garam, jadi kalau pas musim panen kami kewalahan mau jual kemana sehingga kadang rusak karena hasil banyak tapi peminat sedikit. Makanya kami sepakat minta TLM damping kami untuk olah lombok dan bawang supaya lebih tahan lama dan lebih laku” Terang Naomi.

Lebih lanjut Naomi menyatakan, harga jual hasil panen lombok saat ini masih berkisar antara Rp. 20.000,- s/d Rp. 30.000,- per Kg, begitu pula bawang merah dan bawang putih karena belum semua petani panen. Tapi pada musim panen harganya turun hingga Rp.10,000,- per Kg sehingga mereka sangat membutuhkan pelatihan ini untuk dapat menghindari jatuhnya harga jual hasil panen mereka nantinya.

Pada kesempatan tersebut, Maria Hepe Mangi, bendahara kelompok IRT “Ndula Luri” ketika ditanyai tentang hasil penjualan produksi Sambal Bawang menyatakan, dalam jangka waktu dua minggu sejak hari pertama produksi pada tanggal 18 – 28 November 2020 lalu, kelompoknya sudah 5 kali produksi sambal bawang yang menghasilkan 172 botol sambal bawang (200gr).

“Kami baru 6 kali produksi, jadi ada 300 botol sambal bawang yang sudah hasilkan dan kami jual dengan harga Rp.20.000 per botol baik di Desa Kadumbul, ada yang kami kirim ke Melolo, Waingapu, Lewa, Sumba Barat bahkan sampai di Kupang. Puji Tuhan omset kami dalam waktu kurang dari tiga minggu sudah Rp. 6,000.000,-“ Jelas Maria bangga.

Di tempat terpisah, Leany Adu pelatih Industri Rumah tangga pada Divisi Transformasi Yayasan TLM ketika di konfirmasi tentang pelatihan tersebut menyatakan, pelatihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis hasil panen para petani di desa Binaan Yayasan TLM dengan memanfaatkan potensi local yang ada di desa sehingga dapat memingkatkan taraf hidup masyarakat.

“Selain meningkatkan nilai jual hasil panen, kita (YTLM_red) juga membekali mereka dengan ketrampilan tambahan seperti cara pengoperasikan alat-alat produksi yang mungkin baru bagi mereka di desa karena setelah pelatihan ini kita bekali kelompok dengan alat-alat pendukung produksi seperti; Blender, Mesin plastic wrapping, penggiling daging, botol, komfor, alat pencacah bawang dan perabotan pendukung lainnya” Sebut Leny.

Vikaris Gereja Kristen Sumba GKS Maujawa Sumba Timur, Paulina Lende. S.Th, yang melayani di wilayah Kadumbul tertarik dan mengambil bagian dalam setiap proses pelatihan hingga produksi sambal bawang tersebut mengaku kaget dengan pelatihan ini dimana olahan makanan siap saji yang biasa ia temui di mini market atau toko-toko dapat diproduksi secara rumahan.

“Saya baru beberapa bulan melayani di GKS Maujawa dan saya sangat senang ada pelatihan semacam ini. Akan menjadi pengalaman baru bagi saya ketika saya memimpin jemaat suatu saat nanti, atas nama teman-teman anggota kami mengucapkan terimakasih untuk TLM untuk program ini”, Tutup Vicaris Paulina. *red_http://tlmfoundation.or.id

  Tags:
  Comments: None