Batal Berangkat TKI Karena Sudah Memiliki Penghasilan Di Desa Melalui Kebun Produktif

10 Jul, 2018

Peran Yayasan TLM-GMIT dalam mencegah Human-Trafficking

Program Kebun produktif yang dicanangkan oleh Yayasan Tanaoba Lais Manekat GMIT (YTLM – GMIT) sejak tahun 2014, merupakan salah satu program unggulan yang cukup menolong masyarakat NTT karena selain dapat meningkatkan pendapatan keluarga miskin di desa, juga menolong pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja di desa sehingga dapat mengurangi dan mencegah masyarakat desa mencari pekerjaan ke luar daerah yang menyebabkan tingginya tingkat  human trafficking di NTT.

Human Trafficking atau perdagangan manusia adalah segala bentuk jual beli terhadap manusia dan juga eksploitasi terhadap manusia itu sendiri di dalam negeri maupun antar negara melalui mekanisme paksaaan, ancaman, penculikan, penipuan dan memperdaya, atau menempatkan seseorang dalam situasi sebagai tenaga kerja paksa seperti prostitusi paksa, perbudakan dalam kerja domestik, belitan utang atau praktek-praktek perbudakan lainnya

Menurut catatan IOM (International Organization for Migration), yang menunjukan bahwa hingga awal tahun 2018 terdapat 8.876 korban perdangan orang yang berasal dari Indonesia.

Melihat masalah ini, YTLM, sebagai wujud diakonia Gereja GMIT merasa terbeban secara moril dan mulai berpikir untuk mencari solusi bagaimana menolong pemerintah dan masyarakat untuk menekan angka kasus human trafficking yang begitu tinggi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, yaitu lahan tidur yang diolah menjadi kebun produktif yang menghasilkan tanaman produktif bernilai ekonomis untuk membantu masyarakat meningkatkan standar hidup mereka baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Pada Tahun 2013, Yayasan TLM melalui fasilitator desa mengimplementasikan program tersebut di beberapa desa termasuk desa Kiubaat, Amanuban Selatan-TTS.  Bildad Tefu adalah salah satu anggota kebun produktif desa Kiubaat. Lahir di Oeupun Desa Kiubaat, 16 Februari 1976. Bildad hanya menamatkan Pendidikan Sekolah Dasar karna faktor ekonomi keluarga pada saat itu. Kemudian bekerja sebagai buruh bangunan. Bosan menggeluti pekerjaan sebagai buruh bangunan, Pada tahun 2003 ia kemudian memutuskan untuk berangkat ke Sulawesi untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Setelah beberapa tahun merantau, iapun kembali dan Menikah pada tahun 2013 dengan istri tercintanya Berta Lape dan dikaruniai 2 orang anak.

Om Bil sapaan akrab Bildad Tefu  setelah menikah, mengaku kebutuhan ekonomi memaksanya untuk berusaha bagaimana harus memenuhi kebutuhan keluarganya akan sandang pangan dan papan. Ia berencana untuk mengikuti program TKI ke luar negeri ditawarkan oleh beberapa oknum. Namun beberapa waktu berselang, ia bertemu dengan fasilitator pertanian YTLM yang menawarkan program pendampingan Kebun produktif.

 

Ia beserta keluarga dan tetangganya bersepakat membentuk kelompok tani, mengolah lahan tidur milik keluarganya yang akhirnya memberikan penghasilan tambahan yang baginya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan memberikan nutrisi yang baik bagi istri dan anak-anaknya.

Bildad akhirnya memutuskan untuk tidak pergi mengikuti program TKI yang ditawarkan yang beberapa bulan kemudian ia mendengar informasi bahwa program tersebut adalah illegal.

“Puji Tuhan, saya sekarang sudah ada penghasilan. Saya tidak perlu merantau jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ternyata di kampung kita juga bisa dapat uang asal rajin” tukas Bildad.  “Dengan adanya Yayasan TLM yang menolong kami, membimbing kami, mengajari kami dengan teknik berkebun yang modern, awal tahun 2014 sudah ada hasil dari kebun. Dari jualan hasil kebun berupa cabai, tomat, papaya, buah naga dan lain-lain saya dan istri bisa simpan-simpan uang untuk kebutuhan anak sekolah, makan minum, bahkan sekarang saya sudah bisa bangun rumah. Jadi sudah tidak ada niat untuk merantau lagi”. Lanjutnya.

Bildad menyatakan bahwa selama menekuni pekerjaan sebagai petani kebun produktif, ia mendapatkan banyak pengalaman baru; pengetahuan bercocok tanam secara modern, instalasi pipa untuk kebun produktif, pengetahuan tambahan menerapkan teknologi hydram dan teknik penyaringan air bersih menggunakan saringan pasir serta pelatihan pengolahan pangan pasca panen.

Bildad Tefu menambahkan bahwa ia dan keluarganya benar-benar merasakan manfaat bimbingan dan pendampingan dari YTLM selama kurang lebih 4 tahun terakhir ini. Pengalaman Bildad menjadikan ia sebagai seorang yang memberikan dampak positif bagi orang-orang disekitarnya di mana mereka tidak lagi terdesak untuk mencari pekerjaan di luar desa dan tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak ilegal yang menjanjikan pekerjaan karena sudah terdapat lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan di desa.

Dengan dampak positif yang terlihat, marilah kita terus mendukung YTLM untuk terus bekerja melayani masyarakat guna mencegah dan menekan tingkat perdagangan manusia di NTT.

Tags

,

Be the first to write a comment.

Your feedback