Kiubaat

Desa Kiubaat adalah salah satu desa yang terletak di selatan pulau Timor, Sekitar 3 jam perjalanan darat dari Kota Kupang. Desa Kiubaat telah menjadi mitra dengan Yayasan TLM sejak Tahun 2013 sampai sekarang dengan program : Proyek Air, Kebun produktif dan Pelatihan Aparat dan Masyarakat tentang membangun desa sesuai dengan Undang-undang desa 2014.

Tentang

Desa Kiubaat terletak di Kecamatan Amanuban Selatan , Kabupaten Timor Tengah Selatan, berdiri sejak Tahun 1961 dengan luas wilayah 15 km2. Desa ini berbatasan langsung dengan Desa Batnun disebelah selatan, Desa Oe-Ekam disebelah utara, Desa Oekiu disebelah Timur dan dibelah barat berbatasan dengan Desa Polo. Jarak desa dari Soe Kabupaten TTS adalah ±75 km.

Jumlah penduduk desa ini sebanyak 1.986 jiwa (Laki-laki: 998 jiwa & Perempuan: 988 jiwa) terdiri dari 500 Kepala Keluarga, yang terbagi dalam 4 dusun, 10 RW & 22 RT. Kepala desa Kiubaat Sekarang adalah Yupiter Nabuasa, merupakan kepala desa ke-8 sejak Desa Kiubaat berdiri.

Nama desa Kiubaat sendiri berasal dari bahasa Timor “Kiubaat” artinya Akar Asam, dimana di desa ini, pada Zaman Pemerintahan Raja Nabuasa, Tumbuh subur sebatang pohon asam yang sangat rindang dari akar asam yang menjalar. Dibawah pohon asam ini, dimanfaatkan oleh Raja bersama para tua-tua adat dan kepala pasukan perang sebagai tempat pertemuan untuk musyawarah menyusun strategy perang melawan raja utara, yakni Raja Sonbai.

Desa yang lahir dari 4 Marga besar yakni; Tefu, Manao, Biaf dan Kabnani, dengan semboyan persatuan atau motto yang membuat desa ini tetap utuh dan kuat “Nep a Kilot, Tain a Knobet”, dengan makna“empat nama, Bersatu dan kuat mendukung raja dan takan terkalahkan”. Hingga saat ini 99% masyarakat desa ini adalah petani lahan kering dan petani hortikultura, menghasilkan jagung, padi dan sayur-mayur serta pangan lokal lainnya untuk di konsumsi atau dipasarkan di pasar lokal di Pasar Panite, Soe-TTS atau Kupang.

Proyek Pengadaan Air Kebun

Untuk mengairi tanaman yang sudah ditanam, Yayasan TLM membantu untuk memanfaatkan sumber air terdekat sehingga dapat mengairi tanaman yang sudah ditanam.  Menggunakan teknologi Hydram, air di alirkan dari sumber air sampai ke lokasi penanaman melalui pipa yang di pasang dan ditampung pada sebuah bak penampungan, sehingga air bisa dimanfaatkan dan mengurangi tenaga pengangkutan air untuk pengairan tanaman. 

Selama ini masyarakat mengambil air dari sumber air sisa irigasi sawah yang letaknya kurang lebi 300 meter di-atas lahan produktif, tetapi setelah air habis maka tanaman tidak dapat diberikan air.  Dengan menerapkan teknologi Hydram maka air diambil dari sumber air (sungai) yang letaknya di-bawah dari lokasi lahan produktif tetapi air dapat dialirkan ke atas dan pengairan tetap terjaga.

Selain kebun produktif, desa Kiubaat difasilitasi dengan proyek air bersih untuk dua sekolah di sekitar lokasi kebun, yakni SD Inpres Oeupun dan SMP Negeri Kiubaat. Yayasan TLM Bersama masyarakat dan pihak sekolah bekerja sama memasang pompa hydram untk memompa air dari kali ke lokasi sekolah dengan ketinggian elevasi mencapai 40 Meter. Air ini digunakan oleh sekolah untuk memenuhi kebutuhan cuci tangan, kamar mandi dan mengiram tanaman. Sebelumnya para murid di dua sekolah tersebut setiap hari diwajibkan untuk membawa air dari rumah dalam wadah seperti Jerigen atau ember. Proyek ini sangat membatu tidak kurang dari 200 siswa SD dan SMP sehingga tidak perlu lagi membawa air dari rumah setiap harinya.

Kebun Produktif

Pada bulan Juli 2013, Yayasan TLM-GMIT sebagai salah satu lembaga pemberdayaan masayarakat yang memiliki program peningkatan ekonomi masyarakat, melalui stafnya melakukan survey di desa-desa yang akan dijadikan desa binaan. Dari hasil survey dan kesepakatan dengan Aparat desa dan masyarakat setempat, memutuskan untuk menjadikan Desa Kiubaat sebagai salah satu desa binaan dengan program unggulan kebun produktif. Awal pembinaan TLM kepada desa binaan Kiubaat YTLM memfasilitasi warga dan aparat desa untuk melakukan study banding ke Lahan kebun produktif binaan POLITANI Kupang di Desa Baumata, Kabupaten Kupang. Di kebun tersebut warga dan aparat desa dapat mempelajari mengenai tanaman yang bernilai ekonomis yang dapat di budidayakan di tanah yang kering seperti jenis tanah di Kiubaat, seperti; Tanaman Buah Naga, Pepaya Kalifornia, papaya red lady dan beberapa jenis sayuran.

Setelah study banding, YTLM mendampingi masyarakat membentuk kelompok yang diberi nama “Kelompok Tani Kuiltit” beranggotakan 10 kepala keluarga mengolah lahan tidur (tidak produktif) seluas 50 are menjadi kebun produktif dengan menanam tanaman buah naga, papaya kalifornia, cabai, bawang merah dan berbagai macam jenis sayuran hortikultura lainnya yang dikembangkan secara organic (tidak menggunakan pupuk kimia).

Kebun produktif ini berhasil memberikan penghasilan tambahan bagi anggotanya, sehingga beberapa anggota yang semula berencana untuk mengikuti program TKI/TKW mengurungkan niatnya karena sudah memiliki penghasilan di desa. Kebun ini pun menjadi kebun percontohan dan tempat belajar bagi masyarakat sekitar baik yang ada di desa Kiubaat maupun masyarakat yang berasal dari desa-desa tetangga.

Pelatihan aparat dan masyarakat tentang membangun desa sesuai dengan UU Desa No 6 Tahun 2014.

Tahun 2014 kebijakan pemerintah untuk membangun bangsa dari desa dan diwujudkan dengan terbitnya UU desa No. 6 tahun 2014. Desa diberi otonomi untuk mengelola pembangunan desa mulai dari perencanaan sampai dengan pembangunan dan setiap tahun pemerintah mengalokasikan dana desa dari APBN dan alokasi dana desa dari APBD. Pengelolaan dana tersebut diserahkan pada aparat dan masyarakat desa. Yayasan TLM mengambil bagian untuk meningkatkan kapasitas aparat dan masyarakat untuk melaksanakan pembangunan di desa.

Program tersebut berupa pelatihan aparat dan masyarakat tentang implementasi UU Desa No 6 Tahun 2014.