Peningkatan Pemahaman Pendeta Gmit Sebagai Tokoh Masyarakat Desa Tentang Undang-Undang Desa No. 6 Tahun 2014

By jerrybrand,

Majelis Sinode GMIT bekerja sama dengan Yayasan Tanaoba Lais Manekat (YTLM) menggelar kegiatan Seminar dan Lokakarya Undang-Undang Desa, untuk para pendeta di Kabupaten TTS, Alor dan Rote Ndao.

Kegiatan di TTS telah dilaksanakan pada tanggal 17-19 September 2018 yang diikuti oleh 53 orang pendeta dari 13 Klasis. Sedangkan di bulan Oktober ini, kegiatan seminar dan lokakarya ini dilaksanakan di Kabupaten Alor pada tanggal 8-10 Oktober 2018 diikuti oleh 40 orang pendeta dari 9 klasis.

Dalam kegiatan ini dibahas beberapa issu yang menjadi pokok keprihatinan GMIT seperti; issu kesehatan, Pendidikan, penjualan orang, lingkungan yang dibawakan oleh pembicara lokal, baik dari LSM maupun pemerintah setempat, sedangkan khusus tentang pemahaman undang-undang desa No. 6 Tahun 2014 tentang desa, Yayasan TLM menghadirkan pembicara dari luar yaitu bapak H. Yusuf Murtiono, Direktur Yayasan FORMASI-Kebumen.

Pada kegiatan seminar dan lokakarya di Alor, Pdt. Emil Hauteas, S.Si selaku ketua panitia kegitan tersebut dalam laporannya pada awal acara menyebutkan, pelayanan gereja dalam masyarakat tidak hanya berbicara tentang diri gereja itu sendiri tetapi menjadi bagian utama dari desa sehingga dengan sendirinya para pendeta sebagai pemimpin jemaat secara langsung menjadi tokoh masyarakat desa.

Untuk itu maka kegiatan seminar dan lokakarya undang-undang desa ini bertujuan untuk peningkatan pemahaman para pendeta tentang undang-undang desa, agar para pendeta sebagai tokoh masyarakat dan kaum intelektual di desa mengambil bagian dalam proses pembangunan desa sesuai undang-undang desa (dari perencanaan, implementasi hingga evaluasi).

CEO Yayaasan TLM, Bapak Rozali Hussein dalam sambutannya pada acara pembukaan mengungkapkan bahwa Yayasan TLM dalam 3 Tahun terakhir ini telah melatih kurang lebih 500 kepala Desa di 5 Kabupaten, diantaranya; Kabupaten TTS, Kabupaten Kupang, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sumba timur dan Kabupaten Ende.

Tetapi keterlibatan pendeta sebagai tokoh masyarakat dalam pembangunan desa masih sangat minim, padahal pendeta merupakan unsur penting dalam kehidupan masyarakat desa, dengan pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan para pendeta dalam pembangunan desa.

Ketua Majelis Sinode GMIT Ibu Pdt. Dr. Mery Kolimon dalam kesempatan ini menyampaikan suara gembala sekaligus membuka kegiatan seminar tersebut, menyampaikan bahwa karya keselamatan Tuhan yang dipercayakan kepada gereja kita adalah karya keselamatan yang holistic, yang mengarahkan orang pada iman yang tentang akhir dari sejarah dunia dalam pimpinanNya sebuah sejahtera yang lengkap, bahwa sorga dan kesejahteraannya sudah dimulai hari ini, disini. Sebagai warga GMIT kita bergumul bahwa iman tentang sejahtera yang sempurna, masih dihadapkan pada kenyataan keterbelakangan masyarakat NTT.

“Kita berhadapan dengan kenyataan gizi buruk, angka kematian ibu dan bayi yang sangat tinggi, perdagangan orang, bahkan lingkungan hidup; pembakaran hutan, lahan kekerasan pada perempuan dan anak. Lalu bagaimana mencari cara agar berita keselamatan itu menjadi nyata dalam hidup kita sehari-hari. Melalui rekomendasi Sidang Sinode GMIT 33 dan juga penanda tanganan MoU GMIT dengan Kementrian Desa maka langkah yang diambil adalah bekerja sama dengan mitra GMIT, YTLM sebagai Yayasan yang kaya pengalaman tentang implementasi UU Desa di desa-desa di NTT.” Tutur Pdt. Mery.

Salah seorang peserta seminar dan lokakarya, Ibu Pdt. Veybye Heylssye Ton, S.Th, ketua majelis jemaat Tiberias Malal, Desa pura Selatan, kecamatan Pura mengungkapkan kegembiraannya berkesempatan menambah pengetahuannya tentang undang-undang desa, hak dan kewajiban masyarakat desa dalam pembangunan yang sangat bermanfaat memberikan energi baru dalam melayani jemaat dan masyarakat desa.

Iapun bertekad untuk untuk kembali dan mengimplementasikan apa yang diperoleh dalam 3 hari dengan menjadi jembatan dan sumber informasi serta mitra kerja bagi aparat desa dan masyarakat yang adalah jemaatnya, membangun komunikasi yang baik untuk dapat Bersama-sama menerapkan amanah Undan-undang desa no. 6 Tahun 2014 tersebut dalam perencanaan, implementasi hingga evaluasi pembangunan desa memanfaatkan dana desa secara baik demi kesejahteraan Bersama.

Kegiatan seminar dan lokakarya terakhir pada tahun ini rencananya akan dilaksanakan pada awal Desember di Kabupaten Rote Ndao dengan peserta dari teritorial kependetaan Rote Ndao dan Sabu Raijua.

 

Pelatihan Pembuatan Kripik Pisang di Desa Sahraen

By jerrybrand,

Kripik pisang adalah salah satu produk rumah tangga yang diminati oleh masyarakat luas, sehingga memiliki potensi yang baik secara ekonomi untuk dijadikan usaha.

Pada tanggal  4 September 2018 Yayasan TLM memberikan pelatihan kepada masyarakat di dusun 5, desa Sahraen, Kabupaten Kupang.  Dusun ini dipilih karena potensi daerah yang banyak air, banyak  tanaman pisang dan masyarakat setempat, khususnya kaum perempuan pernah mengikuti pelatihan di tingkat desa.  Fera Huwae sebagai salah satu staf pelatihan Yayasan TLM menyampaikan tentang bagaimana buah pisang dijadikan usah Bersama sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarkat.  Pelatihan diberikan dengan cara teori dan praktek, dimulai dengan penyampaikan materi “Membentuk Kelompok“,  materi “Strategi Pemasaran” dan materi “Pembukuan Sederhana”.

Setelah mendengarkan teori pelatihan, kelompok langsung mempraktekan pembuatan kripik pisang, yang dikerjakan Bersama-sama dengan beberapa tahapan; persiapan bahan dan peralatan, pisang dipotong sesuai ukuran, pisang di goreng dan dimasukan dalam kemasan yang tersedia.

 

 

Yayasan TLM selain memberikan pelatihan, juga membantu untuk menyediakan kemasan yang standart, pemasaran hasil produksi bahkan mendampingi masyarakat untuk mendaftarkan dan mendapatkan  izin dari pemerintah, dalam hal ini badan BPOM.

Untuk kemasan ukuran 200 gr,  kripik pisang dijual oleh kelompok dengan harga Rp. 10.000/bungkus

 

Yayasan TLM GMIT Melebarkan “Sayap” Pelayanan Ke Daratan Flores

By jerrybrand,
  • Bermitra Dengan Dinas PMD Kabupaten Ende, Melatih Lebih dari 70 Kepala Desa

  • Membentuk Forum Komunikasi Pemerintah Desa (FORKOMDES) Se-Kabupaten Ende

Dalam dua tahun terakhir ini, Yayasan Tanaoba Lais Manekat (YTLM-GMIT), telah mendampingi dan melatih aparat desa dan masyarakat dalam rangka meningkatkan kapasitas implementasi undang-undang desa No.6, Tahun 2014 dan pengelolaan dana desa.

Yayasan TLM lebih focus pada pengelolaan dana desa yang terus bertambah jumlahnya setiap tahun dan bertambah pula peluang penyimpangan yang dapat menjurumuskan para kepala desa ke dalam penjara.

Program TLM ini berupa pelatihan mulai dari perencanaan, implementasi dan pengawasan dana desa, sehingga dengan adanya pemahan yang baik tentang system kerja yang ditetapkan oleh undang-undang maka secara otomatis akan meminimalisir peluang pengimpangan keuangan yang selama ini terjadi.

Yayasan TLM telah berhasil memfasilitasi terbentuknya Forum Komunikasi Pemerintah Desa (FORKOMDES) tingkat Propinsi NTT dan tingkat Kabupaten, di 4 Kabupaten, yakni Di Kabupaten TTS, Kabupaten Kupang, Kabupaten Sumba Timur dan Kabupaten Rote Ndao pada tahun 2016 dan tahun 2017.

Di tahun 2018 ini, Yayasan TLM berniat memperluas wilayah pelayanannya ke daratan Flores. Setelah melakukan survey cepat di kabupaten Manggarai Barat dan Ende, Yayasan TLM Bersama FORKOMDES tingkat propinsi memutuskan untuk memulai program ini dari Kabupaten Ende.

Gayung bersambut, kata berjawab, pada tanggal 30 dan 31 Juli 2018, niat baik Yayasan TLM diterima oleh pemerintah daerah Kabupaten Ende melalui Dinas PMD, bekerjasama melakukan kegiatan pelatihan dan sosialisasi tentang undang-undang desa No. 6 Tahun 2014 tentang desa dan sekaligus menghelat pembentukan Forum Komunikasi Pemerintah Desa (FORKOMDES), tingkat Kabupaten Ende.

Kegiatan yang dihelat dalam 2 hari di Aula Wisma Emaus kota Ende ini, pada acara pembukaannya dihadiri oleh Pemerintah Kabupaten Ende yakni dari Dinas PMD, lebih dari 70 kepala desa yang mewakili tiap-tiap kecamatan, 2 orang tenaga ahli desa, pihak Yayasan TLM, Senator sekaligus Pembina Yayasan TLM bapak Ir. Abraham Paul Liyanto, Ketua DPRD Propinsi NTT bapak Anwar Pua Geno, SH dan beberapa pejabat lainnya.

Bapak Rozali, Selaku CEO Yayasan TLM Memberikan sambutan pada Acara Pembukaan

“Dana desa setiap tahun terus naik. Tahun 2018 saja, dari APBN pemerintah mengalokasikan tidak kurang dari 80 triliun dan akan naik di tahun mendatang menjadi 120 triliun. Sehingga dari dana yang sedemikian besar, besar pula peluang pengimpangannya. Dari kurang lebih 72 ribu desa di Indonesia, sudah 900 kepala desa menginap masuk penjara karena salah mengelola dana desa. Jadi sebagai Lembaga social kemasyarakatan yang bekerja di NTT, Yayasan TLM tidak mau ini terus terjadi atas saudara-saudara kita ” Pungkas bapak Rozali selaku CEO Yayasan TLM dalam sambutannya dalam acara pembukaan kegiatan tersebut.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa sudah ada 366 kepala desa yang sudah tergabung dalam Forum ini dari 4 kabupaten. Iapun berharap di kabupaten Ende diharapkan terbentuk forum yang sama dengan anggota lebih dari 120 kepala desa sehingga kedepan ada wadah tempat belajar dan bertukar informasi antar kepala desa tentang informasi-informasi seputar pembangunan di desa.

Kegiatan pelatihan dan diskusi tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas PMD Kabupaten Ende, Bapak Yohanis Nislaka mewakili Bupati Ende.

Dalam sambutannya beliau mengucapkan terimakasih kepada Yayasan TLM atas niat baiknya membantu pemerintah dalam memberikan pencerahan kepada para kepala desa tentang tata kelola keungan/ dana desa yang sementara ada.

Bapak Yohanis Nislaka, Kadis PMD Kabupaten Ende mewakili Bupati Ende Memberikan sambutan pada acara pembukaan Kegiatan pelatihan

“Kegiatan pelatihan yang di buat oleh TLM ini merupakan kepedulian yang patut diapresiasi dan disyukuri. Ini sangat menolong pemerintah desa, khususnya di wilayah kami Kabupaten Ende, khususnya sosialisasi tentang berlakunya Permendagri No. 20 tahun 2017, sehingga diharapkan para peserta yang adalah kepala desa untuk dapat mengikuti secara baik sehingga dapat diterapkan secara baik pula”. Tutur Kadis PMD.

Yayasan TLM menghadirkan Dewan Presidium FORMASI Kebumen, Bapak Yusuf Murtiono selaku nara sumber dalam kegiatan  pelatihan ini.

Bpk Yusuf Murtiono dari Yayasan Formasi selaku pemateri dalam kegiatan pelatihan

Diakhir kegiatan ini, para peserta difasilitasi oleh Yayasan TLM bersepakat membentuk FORKOMDES tingkat kabupaten Ende, dan badan pengurus terpilih rencananya akan di kukuhkan Bersama badan pengurus FORKOMDES dari 4 kabupaten lainnya pada bulan September mendatang.

Senator NTT Bpk Ir. Abraham Paul Liyanto memberikan materi tentang pengelolaan dana Desa

Proses Pemilihan badan pengurus FORKOMDES tingkat Kabupaten Ende

Proses Pemilihan badan pengurus FORKOMDES tingkat Kabupaten Ende

Badan Pengurus FORKOMDES Kab Ende menandatangi berita acara pendirian FORKOMDES seusai pelatihan

Badan Pengurus FORKOMDES Kab Ende menandatangi berita acara pendirian FORKOMDES seusai pelatihan

Strategi Yayasan TLM-GMIT Dalam Menyebar “Virus” Bertani Terpadu Melalui Kebun Produktif

By jerrybrand,
Meningkatkan Kapasitas Anggota Kelompok Tani Melalui Studi Banding

Yayasan Tanaoba Lais Manekat (YTLM-GMIT), mengajak masyarakat desa binaan untuk mengolah lahan tidur menjadi kebun produktif untuk menghasilkan bahan pangan yang kemudian dapat diolah dan dijual sebagai sumber pendapatan tambahan.

Saat ini, kebun produktif yang difasilitasi oleh TLM berjumlah 8 kebun yang berlokasi di 8 desa, yaitu Sahraen dan Nekmese di Kabupaten Kupang, Enonabuasa dan Kiubaat di kabupaten TTS, Kolobolon, Maubesi dan Lidamanu di kabupaten Rote Ndao serta satu kebun produktif di kabupaten Sumba Timur, tepatnya di desa Ngaru Kanoru.

Jenis tanaman yang ditanam terdiri dari sayuran dan buah-buahan yang dibudidayakan secara organic sehingga aman untuk dikonsumsi. Selain kebun produktif, YTLM juga mengadakan proyek air bagi kebun produktif menggunakan teknologi hydraulic ram yang lebih dikenal dengan pompa hydram. Penggunaan hydram dikarenakan oleh letak kebun produktif yang lebih tinggi dari sumber air sehingga dibutuhkan teknologi yang mampu mengalirkan air dari sumber kebun demi perawatan tanaman yang maksimal.

Dengan program kebun produktif ini, banyak warga desa yang sangat terbantu. Mereka yang sebelumnya jarang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan karena kurangnya pengetahuan akan pengelolaan lahan dapat dengan mudah mengkonsumsi makanan tersebut. Kebun produktif pun menciptakan lapangan kerja bagimereka yang siap menjual hasil kebun.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas petani dalam pengelolaan lahan,  teknik bercocoktanam secara terpadu menerapkan pola tanam modern baik dan benar maka Yayasan TLM memberikan kesempatan kepada para petani anggota kebun produktif yang baru untuk melakukan studi banding, mengunjungi kebun produktif di desa binaan yang sudah berhasil mengembangkan program kebun produktif terpadu tersebut.

Belum lama ini, pada tanggal 10 s/d 13 Juli Tahun 2018, Yayasan TLM memberikan kesempatan kepada 5 orang anggota kebun produktif Desa Sahraen Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Bersama satu orang fasilitator desa Yayasan TLM, untuk mengunjungi Kebun produktif Desa Kolobolon dan Desa Lidamanu di Kabupaten Rote Ndao.

Dalam kegiatan ini, Yayasan TLM menghadirkan pula 15 orang anggota kebun produktif Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah beserta fasilitator desanya.

Kegiatan yang dihelat dalam 4 hari itu bertujuan untuk dapat memberikan kesempatan kepada anggota kebun produktif desa Sahraen dan Maubesi untuk melihat secara langsung proses bercocok tanam tanaman buah naga beserta konsep usaha (bisnis) yang dikembangkan di kebun produktif Desa Kolobolon sejak tahun 2014 lalu.

Kebun produktif organik Desa Kolobolon sudah berhasil mengembangkan tanaman buah naga dengan cita rasa yang khas sehingga memberikan dampak yang luar biasa bagi anggota kebun dimana terdapat kurang lebih 70 pohon buah naga dewasa yang sudah menghasilkan buah sehingga setiap anggota kebun sudah bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil panen buah naga. Hingga saat ini kelompok kebun desa Kolobolon menanam buah naga hingga mencapai 1000 pohon dan dipastikan dalam jangka waktu 1 tahun kedepan sudah bisa menikmati hasilnya.

Tuti Aritonang, kepala divisi Transformasi Yayasan TLM ketika ditemui diruang kerjanya mengemukakan harapannya atas kegiatan studi banding tersebut, bahwa anggota kelompok tani  yang disertakan bisa belajar dengan melihat secara langsung kemudian kembali dan dapat mengaplikasikan apa yang di dapat dari desa yang dikunjungi yakni konsep bertani yang holistik di desa mereka.

“Anggota kebun Desa Kolobon ini sudah merasakan manfaat bertani dengan pola kebun produktif. Mereka sudah berhasil dalam 4 tahun dan menikmati hasil. Jadi mereka ini diberkati untuk memberkati lagi. Dengan pengalaman yang sudah mereka miliki, mereka membagikan dengan cara memfasilitasi anggota kebun dari desa yang lain untuk berkebun terpadu seperti mereka demi peningkatan taraf hidup bersama” Pungkasnya.

Adapun hal-hal yang di amati dan dipelajari anggota kebun produktif Desa Sahraen dan Desa Maubesi selama masa studi banding tersebut antara lain; cara bercocok tanam tumpang sari, pembuatan bedengan, rotasi tanaman, pembuatan pupuk organik dengan menggunakan jerami bakar sebagai pengganti pupuk urea, persiapan lahan tanam untuk buah naga, pemangkasan stek buah naga, semai, penanaman, pemupukan hingga perawatan.

Tidak hanya itu saja, anggota kelompok tani juga di bekali dengan materi pengolahan panen pasca panen, manajemen kelompok, manfaat menabung di KSP TLM dari hasil penjualan untuk kas kelompok maupun pribadi, cara pemanfaatan air secara efektif dan efisien dimana tidak hanya untuk mengairi tanaman saja tetapi juga untuk budidaya ikan lele dan peternakan ayam potong dan lain sebagainya.

Salah satu peserta studi banding dari Desa Sahraen, Leksi Sufmera ketua kelompok kebun produktif Desa Sahraen mengungkapkan kegembiraan diberi kesempatan oleh Yayasan TLM untuk dapat belajar langsung dari kebun yang sudah berhasil dan mandiri sehingga mereka mulai terbuka pola pikirnya untuk dapat mengelola kebun mereka secara efektif dan efisien.

“Atas nama kelompok kebun produktif Niwukore Desa Sahraen, kami berterimakasih kepada Yayasan TLM sudah mengajak kami mengikuti kegiatan studi banding ini. Kami sangat senang dengan kegiatan ini.  Kami benar-benar terinspirasi dengan keberhasilan kebun Kolobolon dan Lidamanu. Dengan melihat langsung seperti ini, benar-benar membangkitkan semangat kami sehingga denqan adanya pengalaman dan ilmu baru tentang budidaya tanaman buah naga tersebut, kami akan kembali dan mencoba di kebun kami” Tutur Leksi seusai mengikuti kegiatan tersebut.

Batal Berangkat TKI Karena Sudah Memiliki Penghasilan Di Desa Melalui Kebun Produktif

By jerrybrand,

Peran Yayasan TLM-GMIT dalam mencegah Human-Trafficking

Program Kebun produktif yang dicanangkan oleh Yayasan Tanaoba Lais Manekat GMIT (YTLM – GMIT) sejak tahun 2014, merupakan salah satu program unggulan yang cukup menolong masyarakat NTT karena selain dapat meningkatkan pendapatan keluarga miskin di desa, juga menolong pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja di desa sehingga dapat mengurangi dan mencegah masyarakat desa mencari pekerjaan ke luar daerah yang menyebabkan tingginya tingkat  human trafficking di NTT.

Human Trafficking atau perdagangan manusia adalah segala bentuk jual beli terhadap manusia dan juga eksploitasi terhadap manusia itu sendiri di dalam negeri maupun antar negara melalui mekanisme paksaaan, ancaman, penculikan, penipuan dan memperdaya, atau menempatkan seseorang dalam situasi sebagai tenaga kerja paksa seperti prostitusi paksa, perbudakan dalam kerja domestik, belitan utang atau praktek-praktek perbudakan lainnya

Menurut catatan IOM (International Organization for Migration), yang menunjukan bahwa hingga awal tahun 2018 terdapat 8.876 korban perdangan orang yang berasal dari Indonesia.

Melihat masalah ini, YTLM, sebagai wujud diakonia Gereja GMIT merasa terbeban secara moril dan mulai berpikir untuk mencari solusi bagaimana menolong pemerintah dan masyarakat untuk menekan angka kasus human trafficking yang begitu tinggi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah menciptakan lapangan kerja dan sumber pendapatan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, yaitu lahan tidur yang diolah menjadi kebun produktif yang menghasilkan tanaman produktif bernilai ekonomis untuk membantu masyarakat meningkatkan standar hidup mereka baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Pada Tahun 2013, Yayasan TLM melalui fasilitator desa mengimplementasikan program tersebut di beberapa desa termasuk desa Kiubaat, Amanuban Selatan-TTS.  Bildad Tefu adalah salah satu anggota kebun produktif desa Kiubaat. Lahir di Oeupun Desa Kiubaat, 16 Februari 1976. Bildad hanya menamatkan Pendidikan Sekolah Dasar karna faktor ekonomi keluarga pada saat itu. Kemudian bekerja sebagai buruh bangunan. Bosan menggeluti pekerjaan sebagai buruh bangunan, Pada tahun 2003 ia kemudian memutuskan untuk berangkat ke Sulawesi untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Setelah beberapa tahun merantau, iapun kembali dan Menikah pada tahun 2013 dengan istri tercintanya Berta Lape dan dikaruniai 2 orang anak.

Om Bil sapaan akrab Bildad Tefu  setelah menikah, mengaku kebutuhan ekonomi memaksanya untuk berusaha bagaimana harus memenuhi kebutuhan keluarganya akan sandang pangan dan papan. Ia berencana untuk mengikuti program TKI ke luar negeri ditawarkan oleh beberapa oknum. Namun beberapa waktu berselang, ia bertemu dengan fasilitator pertanian YTLM yang menawarkan program pendampingan Kebun produktif.

 

Ia beserta keluarga dan tetangganya bersepakat membentuk kelompok tani, mengolah lahan tidur milik keluarganya yang akhirnya memberikan penghasilan tambahan yang baginya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan memberikan nutrisi yang baik bagi istri dan anak-anaknya.

Bildad akhirnya memutuskan untuk tidak pergi mengikuti program TKI yang ditawarkan yang beberapa bulan kemudian ia mendengar informasi bahwa program tersebut adalah illegal.

“Puji Tuhan, saya sekarang sudah ada penghasilan. Saya tidak perlu merantau jauh-jauh untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ternyata di kampung kita juga bisa dapat uang asal rajin” tukas Bildad.  “Dengan adanya Yayasan TLM yang menolong kami, membimbing kami, mengajari kami dengan teknik berkebun yang modern, awal tahun 2014 sudah ada hasil dari kebun. Dari jualan hasil kebun berupa cabai, tomat, papaya, buah naga dan lain-lain saya dan istri bisa simpan-simpan uang untuk kebutuhan anak sekolah, makan minum, bahkan sekarang saya sudah bisa bangun rumah. Jadi sudah tidak ada niat untuk merantau lagi”. Lanjutnya.

Bildad menyatakan bahwa selama menekuni pekerjaan sebagai petani kebun produktif, ia mendapatkan banyak pengalaman baru; pengetahuan bercocok tanam secara modern, instalasi pipa untuk kebun produktif, pengetahuan tambahan menerapkan teknologi hydram dan teknik penyaringan air bersih menggunakan saringan pasir serta pelatihan pengolahan pangan pasca panen.

Bildad Tefu menambahkan bahwa ia dan keluarganya benar-benar merasakan manfaat bimbingan dan pendampingan dari YTLM selama kurang lebih 4 tahun terakhir ini. Pengalaman Bildad menjadikan ia sebagai seorang yang memberikan dampak positif bagi orang-orang disekitarnya di mana mereka tidak lagi terdesak untuk mencari pekerjaan di luar desa dan tidak mudah dipengaruhi oleh pihak-pihak ilegal yang menjanjikan pekerjaan karena sudah terdapat lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan di desa.

Dengan dampak positif yang terlihat, marilah kita terus mendukung YTLM untuk terus bekerja melayani masyarakat guna mencegah dan menekan tingkat perdagangan manusia di NTT.