• +62 (0380) 843115
  • info@tlmfoundation.or.id

Pelatihan dan Diskusi Implementasi Undang-Undang Desa

Untuk ke 2 kalinya) pada tanggal 15-17 Mei 2017 Yayasan TLM mengadakan Pelatihan dan Diskusi tentang bagaimana menerapkan Undang-Undang Desa, diikuti oleh 36 desa dari 4 kabupaten  masing-masing kabupaten Kupang, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan (TTS) dan Sumba Timur . Kegiatan menghadirkan narasumber Bapak Yusuf Murtiono, Pemimpin LSM FORMASI Kebumen yang telah berhasil melaksanakan pendampingan desa-desa di berbagai wilayah lain Indonesia melalui kegiatan Sekolah Desa untuk Rakyat (SADAR). Selain kepala desa, kegiatan juga diikuti oleh fasilitator desa dan staf Yayasan TLM. dari Kebumen, sebagai narasumber yang menguasai tentang Undang-Undang Desa.

Hari pertama dimulai dengan penyampaian tentang hal-hal penting dalam implementasi Undang-Undang Desa setelah itu dilanjutkan dengan diskusi tentang persoalan-persoalan yang timbul dalam penerapannya. Banyak pertanyaan yang diajukan oleh kepala desa menyangkut Undang-Undang Desa, semua pertanyaan dijawab dengan baik oleh bapak Yusuf dan diterangkan dengan detail termasuk peraturan-peraturan pemerintah dan bagaimana solusi yang diperlukan untuk persoalan yang timbul di desa. Juga diajarkan tentang bagaimana cara menyusun rencana kerja berdasarkan asal-usul daerah dan dan simulasi penyusunan rencana kerja masing-masing desa didampingi oleh fasilitator.Kegiatan Pelatihan dan Diskusi Implementasi UU Desa bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan aparat dalam memahami maksud UU Desa serta peraturan pendukungnya, agar mampu melaksanakan perencanaan pembangunan, perencanaan anggaran hingga pelaksanaannya yang partisipatif, demokratis, transparan dan memiliki manfaat bagi desanya masing-masing.

Kepala desa yang hadir  sangat merasakan manfaat dari pelatihan ini, melalui informasi narasumber maupun dari diskusi yang terbangun di antara sesama kepala desa. Mereka berharap kegiatan yang sama dapat dilakukan secara berkala terus-menerus.  Untuk mewujudkan maksud di atas, maka para kepala desa yang hadir merasa perlu untuk membentuk sebuah forum komunikasi bersama sebagai wadah saling berdiskusi dan berbagi informasi.

Pada sesi akhir kegiatan, peserta bersepakat membentuk sebuah organisasi yang di beri nama Forum Komunikasi Pemerintah Desa Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atau disingkat FORKOM Desa NTT. Pembentukan forum berlanjut dengan memilih Pengurus Presidium dengan komposisi: Simsoni Balukh, Kepala Desa Oematamboli, Kabupaten Rote Ndao sebagai Ketua Presidium; Jemmy Kapitan, Kepala Desa Soba, Kabupaten Kupang sebagai Sekretaris; Yohana Lailogo, Yayasan TLM sebagai wakil sekretaris; dan Amatus Tateni, Kepala Desa Naip, Kabupaten TTS sebagai Bendahara.

Selain itu juga dipilih koordinator pada 3 wilayah yaitu: Watson Sodi Mbuik, Kepala Desa Kolobolon, sebagai Korwil Kabupaten Rote Ndao; Yorim Rensini, Kepala Desa Apren, sebagai Korwil Kabupaten Kupang; dan Jemi B.M. Benu, Kepala Desa Panite, sebagai Korwil Kabupaten TTS. Seluruh Kepala Desa yang hadir adalah pendiri forum dan sekaligus menjadi anggota. Korwil wilayah lainnya akan dibentuk kemudian.

Dewan Presidium FORKOM Desa Provinsi NTT diberikan kepercayaan dan tugas untuk mensosialisasikan keberadaan forum di masing-masing kabupaten agar mendapat lebih besar dukungan dari penyelenggara pemerintah desa dan membangun komunikasi serta koordinasi lintas kabupaten agar kebijakan kaupaten yang akan dibuat untuk desa, benar-benar dapat dilaksanakan dan melindungi desa. Yayasan TLM juga akan turut berperan membantu forum ini untuk meningkatkan kerjasama antar desa dan sebagai penghubung dengan pihak-pihak lain yang berkompeten untuk pengembangan forum. Ditetapkan juga bahwa masa kepengurusan Presidium FORKOM Desa Provinsi NTT adalah 3 tahun dengan alamat sekretariat sementara berada di Kantor Pusat Yayasan TLM Jl. Ahmad Yani no. 43 Oeba-Kupang. Presidium FORKOM Desa Provinsi NTT terpilih, akan melakukan pertemuan lanjutan pada Bulan Juni untuk melengkapi kelengkapan organisasi sekaligus menyusun rencana kegiatan dan sosialisasi.