• +62 (0380) 843115
  • tlmfoundation@ytlm.org

Ngaru Kanoro Village

Desa Ngaru Kanoru, Kecamatan Umalulu Kabupaten Sumba Timur hanyalah sebuah desa biasa, hampir tidak ada beda seperti desa-desa lainnya di wilayah Umalulu. Desa ini lahir dari pemekaran, hanya memiliki 2 dusun dengan jumlah penduduk 817 orang (205 KK). Ketika YTLM pertama sekali menjejakkan kaki di desa tersebut dalam rangka melakukan survey desa-desa baru untuk diberdayakan (akhir tahun 2014)– tidak ada yang istimewa dengan desa tersebut. Malah fasilitator YTLM menemui banyak kesulitan untuk bisa sampai di desa dengan selamat. Kondisi jalan setapak yang sangat rusak, terjal dan dipenuhi dengan batu-batu tajam yang berpotensi merusak ban sepeda motor yang dikendarai fasilitator – dan memang setelah sampai di desa ban motor pasti pecah -, tidak ada penerangan, minimnya air bersih & fasilitatas kesehatan yang memadai serta kentalnya adat istiadat masyarakat desa Ngaru Kanoru adalah situasi dan kondisi yang ditemui pada saat itu.

Kemudian hasil dari survey tersebut maka dipilih desa Ngaru Kanoru sebagai desa pertama untuk ditindaklanjuti dengan program YTLM. Dari sini cerita masyarakat desa Ngaru Kanoru dimulai. Sekalipun mereka memiliki akses serba terbatas terhadap hampir di semua faktor – namun masyarakatnya masih memiliki harapan dan harapan itu mendatangkan antusiasme untuk perubahan. Masyarakat menginginkan perubahan dan hal itulah yang menjadikan alasan pemberdayaan terjadi bagi mereka.

Anggota masyarakat mulai bekerja dengan Fasilitator YTLM mempersiapkan rencana kebun produktif. Mulai dari berdiskusi membahas anggaran kebun,  melakukan survey lanjutan terhadap lahan dan sumber air, membuat skema lahan, membuat kesepakatan dengan pemilik lahan dan merekrut anggota kelompok.

“Ketika kami mulai membersihkan lahan dan menggemburkan tanah  dengan cara mencangkul, sepertinya lelah sekali namun kami sangat penasaran seperti apa kebun produktif itu, kami jadi semangat,” kata bapak Lapa Hihi, salah seorang anggota kelompok. Sulitnya akses jalan ke desa mereka menyebabkan tidak seorang pun yang mau menyewakan traktor untuk menggemburkan lahan kebun mereka. Itulah sebabnya mereka harus mencangkul lahan seluas 20 Are tersebut.

Pekerjaan berikutnya adalah menanam dengan menggunakan sistim budidaya lorong. Stek buah naga, pisang mas dan pepaya ditanam dengan sistim lorong, kemudian di sela-sela lorong akan ditanam tanaman hortikultura.

"Kami diajari menanam bawang merah dengan biji, sebelumnya kami belum pernah tahu kalau bawang merah bisa ditanam dengan biji. Kami sudah biasa menanam bawang merah dengan umbi untuk skala kecil kebutuhan rumah tangga. Jadi kami kurang percaya, tumbuh atau tidak?" awalnya demikian kekuatiran Ibu Ketua Kelompok, Agustina. Maka mereka menyarankan kepada fasilitator untuk melakukan ujicoba dulu, ditanam sebanyak 3 bedeng.

Dengan pendampingan konsisten dari fasilitator YTLM, kelompok berhasil memanen bawang merah dengan hasil yang sangat memuaskan – 3 bedeng = 75 kg. Kualitas umbi sangat baik serta ukuran umbi bawang merah cukup besar. "Kami semua takjub dan heran, ujicoba kami berhasil. Kami berhasil menjual bawang merah Rp. 25,000/kg, tapi kami hanya menjual sebanyak 35 kg, sisanya kami bagi rata dengan anggota kelompok untuk disimpan di rumah, karena terlalu senang dengan hasil panen bawang merah kami tidak menjual semuanya," sambung ibu Agustina.

Selain bawang merah, kelompok juga telah mendapatkan hasil yang cukup baik dari tanaman horti lainnya seperti tomat, ketimun, kol krop, kol buah, cabai, paria, kacang panjang dan brokoli. Tanaman tahunan seperti pisang mas dan pepaya juga telah membuahkan hasil yang sangat baik.

"Saya belum pernah bermimpi sebelumnya bisa melakukan ini – berkebun produktif. Kami sudah melewati masa-masa sulit, awalnya ada beberapa anggota keluar dan tidak ingin bekerja di kebun lagi karena belum melihat bukti. Namun sekarang mereka ingin kembali lagi setelah melihat hasil yang kami peroleh. Saya merasa bangga pada diri saya sendiri dan tentu saja makin termotivasi untuk lebih menanam agar saya bisa membuktikan kepada warga di sini bahwa berkebun adalah sumber mata pencaharian yang menjanjikan masa depan," ujar ibu Dorkas, Sekretaris kelompok dengan positif dan penuh percaya diri.

Awalnya kelompok menggunakan pompa air untuk mengairi kebun hingga Agustus 2016 yang lalu, YTLM berhasil membuat teknologi hydram pump dan perpipaan di lokasi sumber air kali dengan melibatkan seluruh anggota komunitas pengguna air di Dusun 1 Desa Ngaru Kanoru. Dengan adanya pompa hidram, maka kini kelompok kebun produktif tidak lagi menggunakan pompa air dan harus membeli bensin. Biaya operasional kelompok lebih hemat dan diharapkan kegiatan akan berdampak jangka panjang. Saat ini desa Ngaru Kanoru tidak sama lagi seperti kebanyakan desa di Kecamatan Umalulu. Di pasar Melolo (pasar tradisional di wilayah itu), desa Ngaru Kanoru sudah terkenal dengan hasil tanaman organik. Beberapa anggota masyarakat dari desa tetangga bahkan Camat Melolo dan ibu-ibu PKK tertarik untuk datang ke Desa Ngaru Kanoru karena ingin melihat Kebun Produktif yang dilaksanakan oleh Kelompok tersebut. Anggota kelompok merasa termotivasi dengan kunjungan-kunjungan tersebut. Namun motivasi yang lebih besar yang dirasakan oleh kelompok saat ini adalah kebun memberikan hasil tanaman yang baik dan mereka memperoleh uang dari penjualan tanaman.

Sebelum YTLM masuk di desa Ngaru Kanoru, masyarakat terbiasa hanya menanam ubi, jagung dan pisang sebagai mata pencaharian ekonomi keluarga. Tanaman ini adalah jenis tanaman tahunan, dimana mereka harus menunggu selama 1 tahun untuk memperoleh penghasilan harian atau mingguan. Setelah YTLM melalui fasilitator desa mendampingi masyarakat terutama anggota kelompok untuk melakukan kebun produktif, anggota kelompok kini tidak perlu harus menunggu 1 tahun untuk memperoleh penghasilan. Sekalipun kegiatan berkebun ini baru dimulai September 2015 namun anggota kelompok sudah memperoleh penghasilan dari tanaman hortikultura dan tanaman tahunan. Semua orang senang dan semakin termotivasi untuk menanam setelah melihat hasil awal yang baik yang mereka peroleh dari kebun produktif.

Table(s)

Kolbolon Kiubaat Enonabuasa Sumba
Value 1 Value 2 Value 3 Value 4
Value 5 Value 6 Value 7 Value 8
Value 9 Value 10 Value 11 Value 12
Value 13 Value 14 Value 15 Value 16