Selama ini, banyak petani jagung menghadapi tantangan yang sama: keterbatasan akses terhadap sarana produksi, minimnya pendampingan teknis, serta tidak adanya kepastian pasar. Akibatnya, hasil panen sering kali hanya dikonsumsi sendiri, dijual dengan harga rendah, atau bahkan dibiarkan hingga rusak karena tidak terserap pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian petani belum memiliki orientasi ekonomi yang kuat dalam pengelolaan usaha tani mereka.
Melihat kondisi tersebut, Yayasan TLM menghadirkan model kemitraan jagung terpadu yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan keberlanjutan mulai dari penanaman hingga pemasaran.
Pendampingan Menyeluruh Dari Lahan hingga Panen
Yayasan TLM memberikan dukungan dalam bentuk bantuan fisik dan teknis kepada petani. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, dimulai dari identifikasi lahan, pengukuran, hingga pengolahan lahan. Petani juga didampingi dalam pemilihan benih unggul, proses penanaman, serta perawatan tanaman yang meliputi pemupukan dan pengendalian hama.
Sebagai bagian dari dukungan sarana produksi, petani juga difasilitasi dengan Paket BOOM Jagung yang merupakan kombinasi pupuk cair, zat pengatur tumbuh (ZPT), serta pestisida untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas hasil panen.
Penguatan Kapasitas Pasca Panen
Tahap pasca panen menjadi perhatian penting dalam program ini. Yayasan bekerja sama dengan PT BISI International Tbk untuk memberikan pelatihan kepada petani terkait pembersihan, pemipilan, dan pengeringan jagung.
Selain itu, petani juga dilatih membuat alat pemipil sederhana menggunakan pipa sebagai solusi praktis di tingkat lapangan. Yayasan turut memberikan dukungan berupa terpal plastik untuk penjemuran serta karung plastik untuk penyimpanan sementara guna menjaga kualitas hasil panen.
Kepastian Pasar dan Skema Pengembalian Saprodi
Dalam aspek pemasaran, Yayasan memfasilitasi penjualan hasil panen melalui kemitraan dengan KOPKAR Agro Badam. Melalui skema ini, hasil panen petani dapat terserap dengan lebih pasti dan harga yang relatif stabil.
Selain itu, sistem ini memungkinkan petani untuk mengembalikan pinjaman sarana produksi (saprodi) yang telah disepakati sejak awal, sehingga tercipta siklus usaha tani yang berkelanjutan.
Jangkauan Program
Program kemitraan jagung terpadu ini telah dilaksanakan di 19 desa dampingan yang tersebar di 4 kabupaten, dengan capaian perkembangan : jumlah petani terlibat: 431 orang, total luas lahan garapan: 121,1 ha.
panen jagung di kabupaten Alor
panen jagung di TTS
anggota kelompok di Alor sedang memanen jagung
anggota kelompok menujukan hasil panennya
Jika dibandingkan dengan sebelumnya, terlihat perubahan yang cukup jelas di lapangan mulai dari cara budidaya hingga penanganan hasil panen yang semakin baik. Dampaknya, potensi kehilangan hasil pasca panen bisa ditekan. Lebih dari itu, program ini berhasil mendorong perubahan pola pikir petani dari sekadar bertani untuk konsumsi menjadi usaha tani yang berorientasi ekonomi dengan perencanaan dan kepastian pasar.
Menuju Pertanian yang Berkelanjutan
Ke depan, model kemitraan ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain. Kolaborasi antara petani, lembaga pendamping, dan mitra industri menjadi kunci dalam menciptakan sistem pertanian yang produktif, efisien, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang terintegrasi, program ini tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi petani secara jangka panjang.