Pegi Mbuik (27 tahun) adalah seorang penyandang disabilitas di desa Suelain, kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Pegi adalah anak ke dua dari 3 bersaudara yang lahir dari pasangan Julius Mbuik dan Since Mbuik.
Setelah lulus dari SMK 1 Lelain, Pegi yang mengambil program Teknik mesin memutuskan untuk mengisi waktunya dengan membuka usaha bengkel motor. Namun usaha bengkel tersebut harus terhenti pada tahun 2019 karena Pegi mengalami saraf kejepit yang mengakibatkan ia sulit untuk menggerakkan kakinya. Kondisinya semakin memburuk sehingga keluarga harus membawanya ke Bali untuk pengobatan lebih lanjut tetapi tidak berhasil. Kondisi ini mengakibatkan Pegi mengalami kelumpuhan hingga sekarang.
Kelumpuhan yang dialaminya membuat ia terbatas dalam melakukan banyak hal. Pegi harus digendong untuk berpindah tempat. Hal ini membuat ia sedih, terutama karena tidak dapat melanjutkan usaha bengkelnya yang mengakibatkannya harus kehilangan pendapatan.
Tidak mau terlalu lama larut dalam kesedihan, Pegi memikirkan cara bagaimana ia bisa tetap produktif dan dapat menghasilkan uang sekalipun tidak bisa berjalan sendiri.
“sekalipun tidak bisa bergerak, saya punya banyak waktu. Saya tidak mau hanya duduk dan tidak melakukan apa-apa. Kaki saya tidak bisa bergerak tetapi tangan masih bisa, jadi pasti ada yang bisa saya lakukan,” kata Pegi.
Bermodalkan pengetahuannya mengenai Teknik mesin, Pegi memutuskan untuk menekuni service elektronik. Ia memperdalam pengetahuannya secara mandiri melalui internet.
“kalau kerja bengkel saya tidak bisa hanya duduk saja, tapi kalau perbaiki elektronik saya bisa kerjakan sambil duduk,”
Menjadi satu-satunya penyedia jasa perbaikan elektronik di desa Suelain dan sekitarnya, banyak yang datang membawa barang elektronik untuk diperbaiki namun banyak juga yang ia tolak karena tidak memiliki peralatan yang memadai.
Tahun 2024, Yayasan TLM melalui program Pengembangan Ekonomi Masyarakat Desa mengadakan program Pemberdayaan Wirausaha di desa Suelain. Program ini diimplementasikan melalui pelatihan dan pemberian in kind. Pegi dengan usahanya yang telah berjalan teridentifikasi layak menerima bantuan in kind untuk mengembangkan usahanya.
Pegi menerima bantuan alat-alat service elektronik berupa solder (pencair timah), multitester (alat tes arus Listrik), solder uap (pemanas uap) dan penyedot timah. Dengan tersedianya alat-alat tersebut, kini Pegi bisa memperbaiki berbagai jenis kerusakan barang elektronik. Permintaan service pun semakin meningkat sehingga ia kini mempekerjakan seorang sepupunya untuk membantunya mengangkat dan memindahkan barang berat.
Seiring semakin banyak permintaan perbaikan elektronik yang datang, Pegi termotivasi untuk mengembangkan bisnisnya ke perbaikan handphone.
“sekarang semua orang pakai handphone jadi saya pikir ini bagus kalau saya bisa perbaiki handphone,” Pegi lalu mengambil kursus online service handphone untuk memperkuat ketrampilannya.
Pegi merasa bersyukur karena dengan keterbatasan yang ia alami, ia masih menjadi seseorang yang produktif dan dan bisa mandiri secara finansial. Pegi bisa menghasilkan hingga Rp. 1.700.000/bulan. Uang ini ia pakai untuk membantu keluarganya serta sebagian ditabung untuk melengkapi alat service yang belum ada.
Pegi adalah seorang penyandang disabilitas yang memiliki tekad kuat dalam memaksimalkan kemampuan yang ia miliki. Pegi membuktikan bahwa keterbatasan yang ia miliki tidak membatasinya dalam berbisnis. Pegi menunjukkan bahwa pemberdayaan disabilitas melalui motivasi untuk membangun kepercayaan diri serta penyediaan bantuan untuk mendukung usaha dapat meningkatkan kualitas hidupnya secara ekonomi maupun sosial.